Blackberry Buat Surti

 
Nexcom (s)
 
“Maaaas , belikan aku Blackberry yoo.”

“Haaah . . edan ‘po kowe ?”

“Kowe , . . kowe , . . sudah tiga tahun di Suroboyo koq masih kowa , kowe terus.”

“Hee..hee..hee.. edan opo awakmu ?”

“Yeeey , edan’e koq pancet nemplek ?”

“Embuh , ach . . . ”

Aku menjawab pendek sambil membereskan mangkok dan gelas di meja ,
sementara Surti masuk melayani seorang anak muda yg membeli 2 batang rokok.

Jam di dinding sudah menunjukkan angka 10.
Masih terlihat motor dan mobil yg melintas ,
tapi kami memilih berberes-beres , memasukkan minuman-minuman dalam botol yg tersaji di meja ,
lalu menutup bedhak warung kami mencari nafkah dan menyambung hidup.

Sungguhpun luas rumah kontrakan itu pas-pasan ,
dengan rombong bakso yg melintang
dan sebelahnya dipasang etalase sepanjang 1 meter ,
buat berjualan rokok , jajanan , gula , kopi , camilan dan lain2 ,
kami senang menempatinya , selain halamannya yg cukup luas meletakkan bangku dan meja panjang ,
buat pengunjung yg datang , juga karena dekat dengan mall dan tak terlalu jauh universitas.
Itu berarti akan ada pembeli setiap hari , meski hampir di sepanjang jalan itu berjualan makanan.
Meski beberapa tempat yg lain lebih keliatan bersih , rapih , bahkan ada beberapa yg agak mewah , cafe.

Setelah selesai ,
seperti biasa Surti mandi lebih dulu , sementara aku menutup bedhak.
Akupun lalu mandi ,
kemudian masuk ke kamar tidur kami yg juga cuma pas-pasan.
Lumayan lah , bisa menaruh meja kecil buat TV 20 Inc yg bulan depan lunas kreditnya.
Juga sebuah lemari pakaian dari kayu yg tempo hari kami beli dari seorang bapak , yg menawarkan berkeliling dengan membawanya terikat di kiri kanan boncengan sepedanya.
Edan tenan bapak itu , gitu koq ya kuat , koq ya gak jatuh.

Aku berbaring di sebelah Surti yg terlihat memasang wajah merengut ketika aku masuk ,
sambil asyik mengikuti berita tentang video mirip artis Ariel , Luna Maya dan Cut Tari.

“Untuk apa tho , dik . . kamu koq minta Blackberry ?”

Dia cuma menoleh sekilas , lalu kembali memperhatikan berita di TV , malah mecucu.

“Blackberry itu mahal , dik. 5 jutaan lhoo.”

“Yg bekas aja thoo . . khan murah.”

“Oallah dik , dik . . semurah-murahnya juga masih muni juta.
Kemarin dulu ada mahasiswa yg kost di rumahnya Haji Wahab nawari bekas . . .”

“Lhaaa , koq gak mas ambil ? Siapa tahu dia butuh duit.”

“. . bekas kelindes ban mobil.”

“Plakkk !”

Pahaku dipukulnya keras sambil tertawa ngakak. Yaach , paling tidak sudah gak merengut.

Aku merangkul pundaknya , malah diselonjorkannya kedua kakinya lalu ditekuk ,
kepalanya berbantal pahaku , kalo sudah begini biasanya berarti masalah it’s clear.

“Untuk apa thoo , sayang pengen Blackberry ?”

“Hallaah , kalo sudah pake sayang sayang , . . . paling cuma merayu ,
supaya tidurnya gak aku punggungi.”

Tetap saja Surti gak mau menjawab dan tetap saja tidur malam ini memunggungiku.
 

———————————————————————————————————————-
 

Hari berikutnya sekitar jam 9 malam kembali Surti ngomong soal Blackberry.
Embuh setan apa yg muncul jam segitu sambil mengumandangkan rayuan Blackberry.

“Enggak diiik , kita gak punya uang segitu.”

“Bekas masss , yg bekas ajaaaa . . .”

“Kita bisa beli bekas, tapi nanti gak bisa mudik.”

Masih banyak gremengannya soal Blackberry , sampe akhirnya dia ngomong.

“Kalo gak mau beliin , ya sudah ! . . aku pergi dulu !”

“Diiik , dik . . ”

Surti sama sekali tidak menoleh , aku mencoba membuntuti ,
baru sampe di depan bangku jualan , 2 orang pegawai mall masuk ,
aku cuma sempat melihat Surti masuk ke gang empat ,
yg rumah-rumahnya kebanyakan adalah tempat kost-kostan.
 

Bedhak terakhir sudah selesai aku tutup ,
aku masih berdiri di pintu ketika Surti pulang.
Melihat wajahnya yg begitu sumringah dengan senyum lebar yg menghias bibirnya , aku malah jadi heran dan curiga ,
“Kesambet opo piye tho bojoku ?”.
Tapi pohon sawo kecik yg katane sering ada bayangan putih berdiri di atas pohon ,
dan sering mengganggu , menakuti-nakuti orang yg lewat situ malam-malam ,
sudah setahun yg lalu di tebang , malah dibuat taman dan dipasangi lampu terang.

Surti melewatiku dan langsung memelukku erat-erat dari belakang ,
ketika aku mau memegang lengannya ia cepat-cepat melepaskan pelukannya dan pergi mandi.
 

“Blackberry china aja yaa , mas.”

Kembali diungkitnya soal Blackberry.
Edan koq orang yg nyiptakan Blackberry itu ,
bikin Surti jadi rewel , bikin aku jadi mumet.
Aku merangkul pundaknya , disandarkannya kepalanya di bahuku.

“Paling-paling sejuta koq.”

“Kamu tadi ke konter nanya-nanya tho ?”

Surti menggeleng lalu mengangguk. Gawe batuk kayak mau pecah.
Aku kembali panjang lebar menjelaskan ,
apa tho gunanya handphone mahal-mahal.
Lha wong Nokia 3100 yg kami punya aja jarang kepake , kadang sampe pulsane numpuk.

Surti cuma merengut tapi seperti kemarin , tidurnya membelakangiku ,
dan ketika aku mencoba memeluknya dari belakang , lenganku malah digigit.
Jiaaan aleman tenan , koyok cah cilik.
 

———————————————————————————————————————-
 

Besoknya seperti malam kemarin , jam 9 lebih Surti “kumat” Blackberry lagi.

“Malam ini rame lhoo , mas.”

“Iya nih , padahal orang-orang gajian khan masih 2 hari lagi.”

“Berarti besok lusa bisa tambah rame ya , mas.”

“Moga-moga aja , dik.”

“Jadi dong beliin aku Blackberry China , . . yg bekas aja wiss.”

“Dhuuuuuh , ampun Gusti. Blackberry lagi , lagi-lagi Blackberry.”

“Ya wis kalo masih belum mau mbeliin , aku pergi dulu !”
 

Kubiarkan saja Surti pergi karena masih ada pembeli yg datang ,
toh paling-paling ke konter di pertigaan , liat-liat sambil nanya-nanya Blackberry.

Bedhak sudah kututup , tapi Surti belum pulang.
Akhirnya kutinggal mandi sementara pintu cuma kurapatkan.
Ketika aku selesai mandi dan masuk ke kamar , kulihat Surti bersandar sambil nonton TV ,
yg lalu segera bangkit dan aku dipeluknya erat-erat .
Tapi ketika aku hendak menciumnya , Surti segera melepaskan pelukannya dan pergi mandi.
 

“Ada yg bekas , mas. Harganya lima ratus ribu , masih bisa ditawar.”

Kata Surti sambil merangkulkan tangannya ke pundakku ,
lalu didekatkannya bibirnya ke telingaku dan berkata setengah berbisik.

“Aku kepengen , mas.”

Darahku berdesir dan jantungku langsung berdebar , kupalingkan kepalaku agar bisa menciumnya.

“Blackberry , maaaass.”

Aku menghela nafas panjang ,
menggeleng-gelengkan kepalaku yg tidak apa-apa ,
sambil mencoba mencari jalan tidak menuruti permintaannya secara langsung.

“Ya wiss , kalo besok juga rame kayak tadi , kita beli Blackberry untukmu dik.”

Aku mencoba memeluknya , tapi dipindahkannya tanganku , dia tidur memunggungiku lagi.

“Besok aja , kalo sudah ada Blackberrynya . . . .”
 

———————————————————————————————————————-
 

Malam ini tidak seramai malam kemarin , tapi aku memilih mengalah pada kemauan Surti.
Selesai menutup bedhak kami berjalan ke konter di pertigaan jalan.
Rupanya Surti memang sudah melihat-lihat hari sebelumnya ,
karena begitu kami sampai dan duduk di depan etalase handphone ,
si engkoh langsung mengeluarkan sebuah Blackberry China berwarna merah dengan kombinasi hitam.

Di sepanjang perjalanan pulang Surti nampak gembira sekali mengutak-atik Blackberrynya.

“Mbok ya nanti aja di rumah.”

Kataku yg akhirnya ikut senang juga karena bisa membuatnya senang.
Moga-moga aja dagangan kami rame terus agar bisa menyiapkan uang buat lebaran di kampung ,
dan ngumpul-ngumpulin buat mbayar kontrakan yg bakal habis 3 bulan lagi.

Surti menoleh kepadaku sambil tersenyum , dimasukkannya Blackberry itu ke saku roknya.
Kepalaku diraih lalu diciumnya pipiku.

“Makasih ya , masku sayang.”

Aku mengangguk sambil tersenyum.
Itulah Surti , dia tidak pernah malu menunjukkan perasaannya kepadaku ,
meski kadang aku yg risih kalo sedang di warung dia ngomel atau tiba-tiba mencium pipiku.

Sampai di depan gang 4 , Surti membelok dan menyuruhku pulang duluan.

“Mas duluan aja , mandi yg bersih yaa ? Aku nanti nyusul.”

Aku mengiyakan saja , paling-paling dia mau memamerkan Blackberrynya ke teman-temannya ,
SPG-SPG yg sering jajan di warung kami. Wis ben lah , asal aku tidak tidur dipunggungi lagi.
 

Surti masuk dan meletakkan Blackberry di ranjang lalu membuka lemari pakaian.

“Aku mandi dulu. Jangan utak-atik Blackberryku yaa.”

Aku cuma tersenyum dan meneruskan nonton TV.

Tak lama Surti masuk dengan cuma mengenakan pakaian dalam dan celana pendek.
Jantungku rasanya berdebar-debar dan darahku mengalir cepat sekali ,
apalagi tercium harum tubuhnya ketika berbaring di sebelahku.
Aku memiringkan badanku memeluknya sambil kucium lengannya yg terbuka.

“Sebentar tho , mas.”

Katanya sambil mengutak-atik Blackberrynya lagi.

Aku kembali menghela nafas , bakalan sibuk dia dengan Blackberrynya semalaman pikirku.

“Dik , kenapa sih kamu itu ngotot banget minta Blackberry ?
Lagian ngapain pake mamer-mamerin ke temen-temenmu dulu ?”

“Aku tadi ke mbak Yanti , mas. Minta video.”

“Mbak Yanti SPG parfum itu ? video ?”

“Iya , mas. Aku pengen kita malam ini bercintaan kayak gini lho mas.”

Ia menggeserkan tangannya , sehingga aku dan Surti bisa melihat apa yg dimaksud Surti.
Terlihatlah adegan video yg bikin heboh orang se Indonesia.

“Plakkkk !!!”

Kutepuk jidatku kerasss !!
                                                                  S.O.T.R , September-Oktober ’10

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: