Malaikat Tak Bersayap – Istana Pasir

 
Pantai berpasir putih itu memang bukanlah tempat rekreasi ,
dan mataharipun sudah mulai tenggelam di ujung laut.
Sinarnya berbias pada awan sekelilingnya , kuning kemerahan.

Seorang lelaki terlihat sendirian ,
selangkah demi selangkah pelahan berjalan menyusuri pantai ,
sambil dihisapnya dalam-dalam rokok yg terselip di sela-sela jari tangan kirinya.
Sesekali ia berhenti , tengadah menatap langit dan menghela nafas panjang.
Sesekali juga dipandanginya lekat-lekat ,
pucuk-pucuk air laut dihantar ombak yg tak henti bergelombang , menjilati kaki telanjangnya.
Dari raut mukanya tak sulit orang menerka ,
bahwa ia sedang mengalami kesedihan yg teramat dalam ,
menanggung beban hidup yg sangat berat ,
yg membuatnya nyaris putus asa.

Ia merasa tak tahu lagi musti berbuat apa ,
ia tak tahu dimana kesalahannya sehingga musti mengalami semua itu.
Semua hal-hal baik , semua hal-hal benar , yg telah dilakukannya . . . terasa sia-sia.
 

Usahanya dalam beberapa waktu akhir terus mengalami kerugian ,
ketika dipercayakan kepada teman-teman yg telah dikenalnya lebih dari 10 tahun.
Karena ia sedang merintis sebuah usaha kecil ,
yg diharapkannya lebih membuat nyaman dan tenang bagi kehidupan keluarganya.
Pekerjaan lamanya memang sering membuat ia seakan tak punya waktu ,
untuk sekedar berbincang-bincang , bergurau , dengan anak dan istrinya.

Namun teman-temannya malah memanfaatkan untuk kepentingan masing-masing.
Padahal modal yg digunakan adalah hasil tabungannya ,
berupa sebidang tanah yg diagunkan ke bank.
Lalu teman-temannyapun meninggalkannya dengan berbagai alasan dan janji.

Ia mencoba menyadarkan diri ,
kesalahan teman-temannya berawal dari kesalahannya sendiri ,
yg menganggap bahwa bila ia melakukan hal baik kepada orang lain ,
akan mendapat balasan yg baik pula ,
sekurangnya tidak mendapat balasan yg buruk.
Ia menganggap , orang lain akan menghargai kepercayaan yg diberikannya ,
adalah sesuatu yg musti dijunjung tinggi.

Ia lupa , ia membutakan dirinya sendiri ,
pada sebuah kenyataan hidup jaman sekarang ,
bahwa tentang uang , setiap manusia mempunyai harganya sendiri.
Ada yg hanya bernilai sebatang rokok , atau sepiring nasi berlauk ayam goreng ,
ada pula yg bernilai sebuah mobil atau rumah mewah dengan perabotannya ,
namun untuk yg harganya tak terbeli ??
Acchhh . . . .

Itu baru harga dari uang , harta , kebendaan . . .
Bukankah seorang lelaki , sering bahkan hampir selalunya ,
jatuh oleh tiga hal , Harta , Tahta dan Wanita.
Menyalahkan Harta , Tahta dan Wanita sebagai sesuatu yg merusak nilai lelaki ?
Tidak ! Lelaki-lelaki itulah yg tidak pernah cukup kuat ,
ketika dihadapannya terpampang salah satu atau bahkan ketiganya sekaligus.
Bukankah ia sendiri meski telah belajar pada sekian banyak ‘guru kehidupan’ ,
jatuh oleh wanita , perasaan cinta kepada wanita , . . . istrinya.
 

Orang bilang “Omnia vincit amor” , “Cinta mengalahkan segalanya”.
Namun ketika cinta itu menghempaskannya pada batu-batu karang ,
mampukah cinta itu membuatnya tetap tegak tegar berdiri ,
atau malahan membuatnya tersenyum bahagia ?

Ia teringat kepada seorang temannya , yg pernah berkata bijak padanya :
Mencintai dengan baik adalah ,
bila yg dicintai berada di sisi kita dan merasa bahagia.
Mencintai dengan benar adalah ,
bila kita tidak berkorban terlalu banyak ,
terlebih malah menjadi korban cinta itu sendiri.
( Yoga Hart )

Itulah hal paling menyakitkannya saat ini ,
setelah kepercayaan yg ia berikan kepada teman-temannya berbalas khianat ,
Istrinya meninggalkannya dengan menguras semua simpanan yg masih tersisa ,
sekaligus meninggalkan beban hutang yg besar ,
kepada beberapa orang yg bahkan sebagian tak dikenalnya.

Dan kepergian istrinya sekali ini , sepertinya tak akan kembali lagi.
Cintanya berbalas pengkhianatan . . . .

Selesai ? Tidak !!!
Si sulung mau masuk universitas , adiknya mau masuk SMA
dan si bungsu mau masuk SMP , jatuh tempo agunan bank tinggal 2 bulan lagi.
Dan ia sudah tak punya apa-apa lagi , kecuali sebuah rumah tinggal.
 

Rokok yg ke tiga mulai dihisapnya ,
dalam hatinya ia berharap Tuhan mengembalikannya pada masa bertahun-tahun lalu , di mana ia merasa melakukan kesalahan terbesar , menerima kembali istrinya.
Demi cinta , demi keutuhan rumah tangga , demi anak-anak ,
demi sebuah ajaran . . . pengampunan.

Mengampuni konon adalah satu dari bagian lain ,
yaitu menerima kembali . . memberi kesempatan kedua.
Namun menerima kembali seseorang yg tidak pernah menyesal ,
tak pernah merasa bersalah dan tak mau mengakui semua kesalahan ,
(ataupun hanya mengakui sebagian saja kesalahan) ,
apalagi berjanji dan berusaha sepenuh kata , hati , pikir dan perbuatan ,
untuk merubah lahir dan bathin , merubah kehidupannya . . . .
Rasanya , di dunia ini cuma ada dua orang yg mau dan mampu melakukannya . . . . . . orang mulia dan orang bodoh !!!

Ia merasa saat ini tengah berjajar dengan orang bodoh lain ,
menerima kenyataan hidup yg teramat pahit , sebagai sebuah akibat.
Karena orang mulia akan menghadapi keadaan seperti saat ini ,
dengan tetap tersenyum dan mengucap syukur serta memuji keagunganNYA.
 

———————————————————————————————————————-
 

Dari kejauhan dilihatnya seorang anak kecil tengah bermain-main sendiri.
disusunnya pasir pantai yg dipadatkan dengan ember kecil ,
dirapikan dengan sekop kecil , sehingga membentuk istana pasir , yg bersusun.
Namun ombak yg bergulung kemudian , menerjang tumpukan pasir itu ,
dan membuatnya tinggal gundukan kecil nyaris rata dengan pantai.

Si anak menyeret kakinya pindah menjauhi tepi air laut ,
kembali asyik membangun istana pasirnya.
Sekali lagi ombak menerjang dan menghancurkannya.

Langkah lelaki itu semakin dekat dengan keberadaan anak kecil itu ,
yg kembali menyeret kakinya ,
sambil membawa ember berisi sekop kecil , menjauhi tepi air laut.
Astaga ! Kakinya pincang !!

Lelaki itu terpana dengan kegigihan si anak kecil ,
lalu ia berjongkok di depan istana pasir berseberangan dengan anak kecil itu.

“Hai , adik kecil . . sedang apa kamu di sini ?”

“Hai om , saya sedang membuat istana pasir.”

Byuuur . . . pucuk-pucuk ombak menerjang mereka , rupanya laut semakin pasang.
Istana pasir itu kembali hancur.

“Mengapa kamu tadi malah membuat istana pasir dari sebelah sana ,
kalau di sini saja masih kena terjangan ombak ?”

“Karena saya memang musti memulai dari sana , om ,
dan tadi di sana gak kena ombak , koq.”

“Lha kenapa kamu koq tidak langsung pindah ke sini ,
ketika pertama kali ombak semakin ke daratan ?”

“Saya mengira dengan bergeser sedikit saja sudah cukup.
Kalau saya bisa tahu apa yg bakal terjadi ,
mungkin saya akan berpindah agak jauh.”

Lelaki itu cuma terdiam , mencoba mencerna kata-kata si anak kecil itu.
Itu seperti yg telah dilakukannya bertahun lalu ,
kalau ia tahu bahwa harapan dan usahanya akan sia-sia ,
mungkin ia tidak akan memilih menerima kembali istrinya.
Kalau ia tahu bahwa teman-temannya hanya akan membebaninya ,
semenjak kerugian pertama , akan dihentikannya seluruh usaha itu , total.

“Kenapa kamu membuat istana pasir ?”

“Karena saya ingin , . . dan harus melakukannya ?”

Bukankah itu pula jawaban atas semua yg dilakukannya ,
karena ia punya keinginan dan ia harus mau melakukan untuk mewujudkannya.
Pengorbanan , cinta , kasih , . . atau apapun istilahnya.

“Padahal ombak selalu menghancurkannya , bukankah itu berarti sia-sia ?”

Anak kecil itu berhenti merapikan sisi-sisi istana pasirnya ,
lalu menatap lelaki itu dengan senyum yg menyejukkan.

“Om , lagi pusing ya ?”

Lelaki itu terpana dengan tatapan dan senyum anak kecil itu ,
ia cuma bisa mengangguk pelahan dengan senyum tipis.
Seketika pikirannya seakan terbebas dari beban yg menggayuti ,
perasaannya seakan terlepas dari semua kesedihan.

“Bukankah kita semua memang harus demikian ,
melakukan sesuatu demi suatu tujuan , dan bila tujuan itu belum tercapai ,
akan melakukan dan melakukan lagi.
Mungkin dengan persiapan yg berbeda , dengan cara yg berbeda.
Ada yg beruntung atau membuat pilihan yg tepat , waktu yg tepat ,
sehingga tidak perlu berulang-ulang kali berusaha.”

“Tapi kalau kemudian semua hancur seperti istana pasir ini , khan sia-sia ?”

“Tidak om , sebuah usaha dengan tujuan baik punya nilai untuk dihargai ,
memberi pelajaran ketika akan melakukan usaha berikutnya , ataupun melakukan usaha yg lain.
Sebuah kegagalan selalu memberi pelajaran ,
bahwa mungkin memang belum waktunya ,
mungkin salah cara ketika melakukannya ,
mungkin memang sebaiknya melakukan hal yg lain saja , dan sebagainya.”

“Bukankah kita memang harus berani memilih dan melaksanakan pilihan kita ,
dengan bersiap diri terhadap segala kemungkinan terburuknya.
Kalau berhasil kita akan tertawa , tapi kalau belum berhasil kita akan bersedih ,
itu khan juga sebuah konsekwensi.”

“Memilih , melaksanakan pilihan dan menerima konsekwensinya ,
adalah bagian dari kehidupan untuk mengisi hidup yg memang berwarna-warni ,
tak soal itu pilihan besar ataupun pilihan kecil.”

“Terkadang orang melakukan usaha besar hanya untuk mendapatkan hasil kecil ,
meski ada pula yg melakukan usaha kecil ,
namun mendapatkan hasil yg besar.
Namun semua itu bukanlah akhir , karena kehidupan masih menanti.
Dan hal yg sama masih akan , terus dan harus berulang , selama kita masih hidup.”

“Om memilih berjalan-jalan ke pantai ,
bisa saja om kehujanan atau basah oleh gelombang air laut yg tiba-tiba besar ,
namun tetap ada yg bisa om nikmati , indahnya matahari yg terbenam ,
debur suara ombak , suara burung-burung pantai ,
andai om tidak terpaku pada diri sendiri.”

Lelaki itu cuma terdiam mendengar semua kata-kata anak kecil itu.
Tak mampu memang ia menampung semuanya ,
namun hatinya merasa sedikit lebih tenang ,
pikirannya sedikit lebih lapang dari berbagai persoalan.

“Om , punya anak-anak khan ?”

“Oo . .iyaa .. . punya . . ”

“Om pulang aja , anak-anak pasti sudah menunggu atau mungkin malah mencari.”

“Iyaa . . iyaa . . . makasih ya adik kecil , kamu sudah membuka mata hatiku.”

“Sama-sama om.”

Anak kecil itu tersenyum menyejukkan.
 

Lelaki itu lalu berjalan menjauhi pantai , melintasi semak-semak ,
menuju tempat dimana ia memarkirkan motornya.
Baru setengah jalan ia berhenti ,
darahnya berdesir seperti listrik yg mengalir di seluruh pembuluh darahnya ,
hingga ke ubun-ubun . . . . . . .

Berbagai pertanyaan tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Bagaimana mungkin seorang anak kecil pincang seusia anak bungsunya ,
bisa berada di pantai sendirian , sedangkan sejak tadi ia tak melihat seorangpun.
Bagaimana mungkin anak kecil itu mencapai tepi laut dengan tongkatnya ,
bukankah tongkatnya selalu akan amblas dan menyulitkan ? Merangkak kah ?

Bagaimana mungkin seorang anak kecil ,
tatapan mata dan senyumnya mampu menyejukkan pikiran dan perasaannya ,
mampu berbicara bagai layaknya seorang dewasa ?
Bagaimana . . . . ? Bagaimana . . . . ? Bagaimana . . . . . ?

Lelaki itu berbalik dan jalan bergegas menuju tempat dimana anak itu tadi berada.
. . . . . Tak Ada !!
Pandangan matanya berkeliling mencari , namun tak nampak sesosok bayanganpun.

Hanya tampak tumpukan pasir laut yg dibentuk persegi ,
dengan sebuah tumpukan lebih kecil berbentuk bulatan di atasnya ,
sehelai daun tertancap diatasnya.
Akhirnya , usaha membangun sebuah ‘istana pasir’ terwujud juga ,
sekalipun berada jauh dari tempat saat memulai ,
sekalipun berada jauh dari waktu saat memulai ,
sekalipun hanya menjadi sebuah ‘pondok pasir’ ,
namun tetap berdiri utuh ,
dan busa-busa ombak yg menjilati pantai hanya menggapai-gapai ‘pondok pasir’ itu.
 

Malaikat tak lagi bersayap . . . .
Untuk mengajarkan kepada manusia ,
agar menjalani kehidupannya sebagai sesuatu yg harus dijalani ,
dengan kesungguhan , dengan cara-cara yg benar dan baik ,
serta tetap berlandaskan kasih sayang ,
dan tak merasa sebagai kesia-siaan ,
ketika semua usahanya seakan tak berbuah apapun.
Tidak pula menjadi sombong dan lupa diri ,
ketika semua usahanya membuahkan hasil seperti yg diharapkan.

Hmmm . . . bisakah ?
                                                                             S.O.T.R , Awal Maret ’10

 

Kita bisa saja tidak mempunyai -harta benda- apa-apa ,
kita boleh saja kehilangan -harta benda- semuanya ,
tapi kita harus tetap memiliki ,
dan tidak boleh kehilangan nilai diri dan keyakinan kepadaNYA.

 

Tulisan Terkait : Malaikat Tak Bersayap – Sepatu
 

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: