Gua Tahu , . . Lu Bener . . . (Bag.1)

 
Boss_Always_Right
 
Konon , cuma ada 2 peraturan tentang boss.
1. Boss selalu benar.
2. Kalo boss salah , lihat peraturan nomer 1.
 

“Yo , iki daftar rêgo soko bossmu.”
(Yo , ini daftar harga dari bossmu.)

Belum terlalu siang ,
ketika seorang supplier udang kawakan masuk ke ruang kantor perwakilan ,
sambil menyodorkan selembar kertas folio yg terlipat.
Aku sudah bisa menebak apa maksudnya , tapi aku pura-pura tidak mengerti ,
tidak juga menerima kertas itu , cuma kutatap matanya.

“Lungguho dhisik koh Hun , maksudmu yok opo ?”
(Duduklah dulu koh Hun , maksudmu bagaimana ?)

“Udangku trimonên nganggo rêgo iki.”
(Udang yg kubawa, musti kamu terima dengan harga ini.)

Ia duduk sambil meletakkan kertas folio itu di mejaku.
Dari balik kertas itu , terbayang paraf yg kukenal ,
dan tanpa perlu membukanyapun aku sudah tahu ,
itu daftar harga pembelian udang tertinggi di Coldstorage tempat kerjaku ,
yg cuma dipegang oleh boss , Factory Manager ,
Kepala Bagian Pengadaan dan Kepala Perwakilan.

“Gak iso !! Nèk awakmu mèh kirim ndok kéné , yo nganggo rêgoku.”
(Gak bisa !! Kalo kamu mau kirim ke sini , ya pake hargaku.)

“Iki rêgo soko bossmu lho !”
(Ini harga dari bossmu lho !)

Nada suaranya meninggi , dengan tekanan pada kata “bossmu” ,
seakan mengingatkan , bahwa aku cuma karyawan , cuma kuli . . .
dan ia punya hubungan dekat dengan bossku.

“Yo nèk awakmu njaluk urangmu ditompo nganggo rêgo itu , bongkar’ên aé ndok kantor pusat !”
(Ya kalo kamu minta udangmu diterima dengan harga itu , bongkar saja di kantor pusat !)

Usia muda , keras kepala ,
dasare yo rodo emosionil (dasarnya juga agak emosionil , hee..hee..hee..) ,
merasa benar dan merasa punya tanggung jawab ,
membuat nada suaraku tak kalah tinggi , nylêkit pula.

Cak Fajar , yg baru datang dari ruang penerimaan , di sisi belakang koh Hun ,
mengacungkan jempol dengan tegas , tanda menyetujui.
Aku jadi semakin terbombong , hee..hee..hee..

Rupanya koh Hun merasa kalo sedang menabrak tembok , mencoba melunak.

“Ndêlok daftar regomu !”
(Lihat daftar hargamu !)

Aku membagi harga penerimaan dalam 3 grade.
Grade A , supplier yg rutin dengan kwantiti cukup sampai banyak.
Grade B , supplier yg seneng “selingkuh” , tapi tetep membagi padaku.
Grade C , supplier baru , cuma coba-coba , atau yg lagi butuh cash money.
Daftar harga tertinggi cuma kupakai kalo bener-bener diperlukan ,
pabrik butuh barang karena tenggat waktu ekspor ,
kwalitas udang yg benar-benar bagus , dan pertimbangan lain.
Kuberikan padanya daftar harga grade C.

“Waaaah , koq adhoh têmên. Télpon’o bossmu-lah , nèk awakmu gak percoyo.”
(Waaaah , koq jauh sekali. Telponlah bosmu , kalo kamu gak percaya.)

“Aku gak ono perluné ambék boss , nèk awakmu sing perlu , iki , . . ‘tak séléhi telpon.”
(Aku gak ada perlu sama boss , kalo kamu yg perlu , ini , . . kupinjami telpon.)

Ia mengambil gagang telpon , menghubungi kantor pusat.
Setelah disambungkan dengan boss , ia langsung nyerocos ,
mereka memang berteman. Aku tahu.

“Eng ! Yok opo anak buahmu iki ? Daftar rêgomu gak payu ndok kéné !”
(Eng ! Bagaimana anak buahmu ini ? Daftar harga darimu gak berlaku di sini)

Hatiku tambah mbedhedheg (-menahan emosi yg- meluap-luap) ,
orang ini mau bermain dengan gengsi bossku.
Kemudian disodorkannya gagang telpon kepadaku.

“Selamat siang , pak Hary.”

“Siang. Itu udang’é koh Hun trimanên paké harga yg gua kasih.”

“Gak bisa , pak ! Di sini saya Kepala Perwakilannya ,
saya yg berhak mengatur soal harga dan penerimaan.
Saya khan bertanggung jawab sama pak Arifin.”

Boss terdiam tiga detik !
Mungkin terkejut dengan reaksi yg tak pernah diperkirakannya.

“Ya sudah , gua ‘tak bicara sama koh Hun.”

Aku tak tahu apa yg dikatakan boss ,
karena koh Hun cuma menjawab : “iyaa . . . iyaa . . .”

Selesai berbicara dengan boss , koh Hun berkata padaku ,
sikapnyapun berubah , lebih bersahaja.

“Yo wis bongkarên , white ambék windu aé , dogol’é ojo yoo.”
(Ya sudah bongkarlah , yg jenis white dan windu saja , dogol-nya jangan yaa.”

“Êngko’ aé , mari istirahat.”
(Nanti saja , setelah istirahat.)

Jawabku sambil melihat jam , . . . setengah dua belas.
Padahal kalo aku mau , tinggal nyuruh anak buah ,
toh udang yg ia bawa tidak banyak , paling gak sampe setengah jam selesai.
Tapi aku memang berniat ngerjai koh Hun ,
hitung-hitung balas dendam kecil-kecilan , hee..hee..hee..
Akupun sudah berencana ,
nanti kalo waktu proses penerimaan “kakehan omong” ,
pembayarannya bakal kutunda besok , atau ‘tak suruh minta ke kantor pusat.
Bèn kapok. haa..haa..haa..
 

Selesai proses penerimaan udang koh Hun ,
masih ada beberapa supplier yg mengantri ,
sehingga kejadian tadi sudah tidak lagi nyantol dipikiranku ,
sampai sekitar jam 4 , ketika sopir perwakilan memberitahukan , ada telpon untukku.

“Selamat Sore.”

“Sore Yo , aku disuruh koh Eng tanya , kamu masih repot nerima udang tha ?”

Cik Sin , sekretaris boss yg menelpon.

“Iya cik , tapi tinggal satu supplier koq.”

“Sampe jam berapa ?”

“Ini sekalian langsung ‘tak pack di truck. Paling jam lima’an selesai.”

“Pesen’ne koh Eng , kalo kamu ndak repot , disuruh kerumahe jam tujuh.”

“Iya cik , ‘tak usahano.”

Dheg ! Aku merasa , pasti boss memanggilku untuk dimarahi.
 

Ketika itu , akhir tahun 1980an ,
perjalanan dari A.Yani ke Dharmahusada yg tidak terlalu ramai ,
(Gak kayak sekarang yg muaaacetnya minta ampun tujuh turunan , delapan tanjakan , sembilan belokan).
sambil menyetir Chevrolet inventaris Perwakilan ,
aku mempersiapkan omongan kalo nanti boss memarahiku.
Seperti layaknya orang bermain catur ,
mempersiapkan langkah ‘begini’ bila lawan memajukan benteng ,
atau langkah ‘begitu’ bila lawan memajukan mentri.
Yg jelas , aku merasa berada di jalur yg benar ,
jadi tidak mau aku disalahkan begitu saja.
Tapi kalo boss gak suka ,
dia mau memutasikan aku ke Pabrik Semarang ,
atau memecat aku sekalipun , apa boleh buat . . . . .

 

BERSAMBUNG.

=================================================

– Udang White : Penaeus Merguiensis (Latin).
    Nama di daerah : udang putih (laut) , wangkang , jrebung , dll.
– Udang Windu : Penaeus Monodon (Latin) , Tiger Prawn.
    Nama di daerah : udang bago , pancet , tiger , tepus , dll.
– Udang Dogol : Metapenaeus Monoceros (Latin).
    Nama di daerah : udang kasap , udang kayu , kadhoro , dll.

– è : dibaca seperti e pada desa , hewan , seksi.
    ê : dibaca seperti e pada Semarang , segera , sejarah.
    é : dibaca seperti e pada Medan , capek , Denada

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: