Gua Tahu , . . Lu Bener . . . (Bag.2)

 
Konon , cuma ada 2 peraturan tentang boss.
1. Boss selalu benar.
2. Kalo boss salah , lihat peraturan nomer 1.
 

Aku sempat memutari jalan yg salah , karena konsentrasi yg terbagi.
10 menitan aku terlambat tiba di depan rumahnya dan segera memencet bel
Seorang gadis sepantaranku , berkacamata dengan rambut lurus sebahu ,
membukakan pintu pagar sambil berkata.

“Yo , kamu ditunggu koh Eng dari tadi lho.”

Aku cuma tersenyum dan mengangguk sambil melangkah masuk ,
dan duduk di ruangan depan yg digunakan sebagai kantor.

“Sék ya , ‘tak sampékno koh Eng.”
(Sebentar ya , aku berutahukan ke koh Eng)

Tak lama boss keluar , belum sempat aku mengucap sepatah katapun.

“Yoga , ayo masuk , masuk.”

Pundakku dirangkul , di’giring’ ke meja makan ,
yg kulihat penuh berisi makanan , rupanya boss baru akan makan malam.

“Fong , ayo kita makan.”

Boss memanggil istrinya , kemudian berkata padaku.

“Lu belum makan khan , ayo makan sekalian.”

“Kamsia koh Eng , saya sudah makan.”

Aku berbohong , karena merasa diundang bukan untuk makan malam ,
selain itu , pengen cepet-cepet menyelesaikan persoalan tadi siang.

“Hallah , lu ndak usah pake sungkan , ayo duduk’o.”

Akupun ‘terpaksa’ menurut.
Merasa gak nyaman , aku cuma mengisi piring dengan nasi separo dari biasanya.
Kiss Of Death , pikirku , hee..hee..hee..

“Lu makan cek sithik’e , sini !”
(Kamu makan kog sedikit sekali , sini !)

Boss malah menyendokkan nasi lagi kepiringku.
Aku makan sambil menata hati yg kebat-kebit , dag dig dug.
Karena yg kupelajari ,
kalo seseorang bisa menahan marah dan masih tetap bisa tersenyum ramah ,
nanti kalo waktunya marah bisa berlipat-lipat.
Aku juga bingung dengan keramahan boss ,
sebab kalo waktu kerja , melihatnya tersenyumpun jarang sekali ,
mukanya mencureng terus , kayak orang marah.

Sambil makan , boss menanyakan keadaan papa , mama dan adik-adikku ,
tak ada sedikitpun menyinggung soal kerjaan.
Oh , nanti setelah makan . . . pikirku.

“Lu sudah punya ai ren (pacar) ?”

Tiba-tiba cik Fong , istri boss , bertanya.

“Belum , cik Fong.”

“Mau ? Lu ‘tak jodohno sama Ling Ling ?”

Yg kurasa , mukaku langsung memerah , seperti udang direbus.
Aku merasa malu ditanya dengan cara terus terang seperti itu ,
bukan karena aku memang belum punya pacar.
Lagian , gimana mau punya pacar ,
lha wong ngobrol sama staff-staff perempuan di kantor saja sering salah tingkah ,
kalo gak ngomongin soal kerjaan dan sejenisnya , hee..hee..hee..

“Saya belum mikiri rumah tangga , cik.”

“Ya ndak langsung ciek fen (menikah) tho , pacaran dhisik setahun dua tahun.”

Aku cuma bisa diam , tersenyum , menunduk dan menyelesaikan makanku.

“Ling Ling itu baek lho , mei li (cantik) , sabar , pinter ,
ndak macem-macem (sederhana) , lu ndak bakal gelo nek mau . . . . . .”

Masih panjang lebar cik Fong membacakan “spesifikasi diri dan pribadi” Ling Ling.
Ling Ling , perempuan yg tadi membukakan aku pintu ,
adalah keponakan jauh cik Fong , ia “asisten pribadi”nya cik Fong.
Jadi tidak termasuk sebagai karyawan perusahaan.

Tidak cuma sekali boss menambahkan lauk ke piringku , dan tak bisa kutolak.
Namun acara makan malam , meski dengan lauk yg enak-enak ,
malah jadi waktu-waktu penyiksaan bagiku.
Pertama karena aku semakin yakin bahwa ini cuma kamuflase ,
sebelum boss menyampaikan keputusannya memutasikan aku ke pabrik , atau memecatku !
Yg kedua , karena tawaran istimewa dari istri boss , hee..hee..hee..
 

Selesai makan malam , boss mengajakku duduk di ruang keluarga.
Sebentar ia masuk ke kamarnya , dan ketika kembali ,
disodorkannya padaku sebuah korek gas yg bagus.

“Lu rokok’an khan ? Ini buat lu , ambil’len.”

Boss masih mengajak ngobrol , tapi tidak juga disinggungnya soal tadi siang.
Aku akhirnya tidak bisa lagi menahan diri.

“Koh Eng , soal tadi siang . . . . . ”

Boss langsung mengangkat tangan kanannya.

“. . . . gua tau , . . . lu bener . . . .”

Aku tidak melanjutkan omonganku , tidak juga menimpali omongan boss.
Aku menyadari , bagaimanapun juga sebagai boss ,
kata-katanya itu sudah cukup , . . . lebih dari cukup !
Tanpa kata-kata itupun seharusnya aku memahami ,
disertakannya aku dalam makan malamnya ,
sudah merupakan pengakuan terselubung atas kebenaran sikapku.
 

Aku pulang dengan hati lega , meski sedikit kecewa.
Gimana gak kecewa , lha sudah kadung “berlatih debat dengan diri sendiri” ,
dan menyiapkan argumentasi bagus , . . , “dikalahkan” oleh cuma 4 kata.
 

Beberapa hari setelah kejadian itu , pak Arifin , Kepala Bagianku , ke Surabaya.
Aku ditelpon , disuruhnya menjemput ke kantor pusat.
Dalam perjalanan mengantarnya ke hotel ,
aku diajaknya makan malam di Kedungdoro.

Setelah selesai makan malam , ia berkata.

“Mas Yoga , . . . you tau ?
di perusahaan ini cuma ada 2 orang yg berani membantah perintah boss.”

Aku tersenyum kecut , tidak sulit untuk menebak salah seorang yg dimaksud.

“Satu . . . saya !”

Sambil mengarahkan telunjuk ke dirinya sendiri , ia berkata sekata demi sekata.

“. . . yg kedua , . . you !”

Ia menunjuk ke diriku.
Aku cuma terdiam melihat raut muka seriusnya.
Aku langsung berpikir , rupanya boss mau “bermain” sesuai jalur.
Bukankah sebagai Kepala Bagian , pak Arifin memang berhak menegorku ,
memberikan Surat Peringatan , bahkan memutasikan aku.

“Tapi , kalo saya masih tetep pake aturan . . . . .
you itu gak pake aturan , main hantam kromo saja , haa..haa..haa..”

Pak Arifin mengakiri kalimatnya sambil tertawa terbahak-bahak ,
tapi aku cuma bisa meringis , hee..hee..hee…

 

Setelah dua puluhan tahun berlalu , terasakan olehku ,
Berani karena benar saja ternyata tidak cukup ,
untuk menunjukkan seseorang punya prinsip , punya landasan moral ,
ketika melakukan sesuatu , yg bertentangan dengan orang lain . . . .
terlebih bila mulai memasuki koridor-koridor kekuasaan , uang , relasi , famili , ataupun kepentingan yg lebih besar.
Perlu kecerdikan , kesabaran , kerendahan hati ,
untuk tidak selalu berbenturan dengan dinding kokoh egoisme -orang lain-.

Dan yg kadang (sering) membuat seseorang enggan berusaha untuk sekeping kebenaran ,
adalah kesadaran , . . . kesadaran bahwa tidak selamanya ,
hal yg benar itu didengar , diakui , diterima dan dihargai , sebagaimana mestinya.
Ketika usaha itu berhasilpun , kepuasan bathin sudah digerogoti oleh waktu ,
dan tatapan -mencemooh- orang sekeliling ,
seakan bertanya : “apa -materi- yg kamu dapatkan ?”

Namun , terlebih dari semua itu ,
Sebutir kebenaran tetap bagai intan paling jernih di dunia ,
yg dirindukan untuk tetap ada . . . . . .
meski tak semua orang siap dengan pengorbanannya . . . untuk memiliki.

                                                                               S.O.T.R , Oktober 2009

 

SELESAI.

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: